Latar Belakang dan Sejarah

Sebelum Republik Indonesia berdiri, ada kerajaan Islam Melayu yang besar bernama Siak Siri Indrapura, kebanggaan lokal yang terletak di Riau. Kerajaan ini dibangun di Buantan oleh Raja Kecil, putra Sultan Mahmud Syah, raja ‘Kesultanan Johor’, yang dibunuh dan dievakuasi ke Pagaruyung bersama ibunya Encik Apong pada abad ke 18.

Siak muncul sebagai negara maritim yang kuat. Pengaruh pemerintahan ini mencapai Sambas di Kalimantan Barat. Apalagi mereka menguasai jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II, menyatakan bahwa kerajaannya bersekutu dengan Republik Indonesia.

Istana Siak Siri Inderapura (Istana Siak Siri Inderapura) adalah kediaman resmi Sultan Siak . Istana ini dirancang dan dibangun oleh seorang Jerman dari tahun 1889 hingga 1893. Arsitektur istana ini merupakan perpaduan antara Eropa, Arab, dan Melayu. Istana ini dibangun di atas lahan seluas 32.000 meter persegi dan terdiri dari 4 istana, yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang , dan Istana Baroe . Istana Siak sendiri memiliki luas 1.000 meter persegi.

Daya tarik

Mereka yang memiliki kepentingan dalam sejarah kepulauan Indonesia dapat melihat kejayaan Kerajaan Siak di masa lalu. Selain keindahan arsitekturnya, istana ini memiliki berbagai peninggalan kerajaan.

Istana ini terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama dibagi menjadi enam ruangan: ruang tunggu tamu, ruang tamu terhormat, ruang tamu pria, ruang tamu wanita, ruang di sebelah kanan yang ditetapkan sebagai istana kerajaan, dan juga ruang dansa.

Koleksi yang ada di Museum Istana Siak terdiri dari berbagai tanda dari tamu kerajaan pada masa pemerintahan Sultan Siak 11 dan 12 , serta beberapa foto keluarga kerajaan. Selain itu juga terdapat lambang kerajaan dan persenjataan seperti tombak, keris , meriam, cermin mistik, kursi, lampu gantung, keramik Cina dan Eropa, piring, gelas, dan peralatan makan. 

Ada beberapa peninggalan kerajaan yang menjadi daya tarik tersendiri di Istana Siak menurut Dang Merdu . Pertama-tama, itu adalah tahta berlapis emas, duplikat mahkota kerajaan, dan brankas kerajaan. Apalagi gendang 200 tahun yang hanya digunakan dalam penobatan raja. Gendang terakhir dibunyikan pada tahun 1914 dalam penobatan Sultan Syarif Kasim II, raja terakhir Siak.

Koleksi selanjutnya adalah patung perunggu dari Ratu Wilhelmina, dan Patung Raja yang terbuat dari batu marmer dan bertatahkan berlian. Patung ini merupakan patung Sultan Syarif Hasyim I, pendahulu Sultan Syarif Kasim II.

Angkutan

Untuk menuju Istana Siak dari Pekanbaru, Anda bisa menggunakan mobil selama 4 jam atau melalui sungai selama 3 jam. Untuk biaya transportasi, Anda harus membayar Rp 70.000,- melalui sungai dan Rp 75.000,- dengan mobil.

Akomodasi

Wilayah Siak memiliki pilihan akomodasi yang beragam. Beberapa hotel terdekat dengan Istana Siak adalah Hotel Istana Tujuh, Wisma Jaya , dan Hotel Yasmin .

Tips

Memasuki istana, pengunjung wajib bertelanjang kaki. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menjaga keaslian lantai granit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.